Prodi Himaptika kini bergelora dengan diadakannya Pekan Olaraga Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (POR HIMAPTIKA) Universitas Tadulako. 4 cabang olahraga yang diperlombakan diantaranya Futsal, Sepak Takraw, Tenis Meja dan Bola Voli. Dalam acara pembukaan yang dilangsungkan pada hari Sabtu 5 Desember 2009 Ketua Himaptika Kamaruddin mengatakan bahwa ini merupakan Program Kerja Perdana selama masa Himaptika dan harapannya bahwa program ini bisa terus dijalankan bagi adik-adik kita yang akan masuk dalam kepengurusan kedepan.
Bapak Bakri Mallo S.Pd, M.Si membuka acara ini dalam sambutannya
Selamat buat teman kita Rafiq Bajeber '07, I Ketut kertayasa '06 dan Uun Marcelia '07 yang telah berhasil menjuarai Olimpiade Sains tingkat perguruan tinggi sulawesi tengah secara berturut-turut 1,2 dan 3. Dalam acara peresmian gedung dosen FKIP UNTAD kemarin tanggal 3 Desember 2009 itu dilangsungkan dengan penyerahan hadiah secara simbolik kepada 9 peserta yang mendapat juara dan diantranya adalah mereka bertiga yang mewakili bidang matematika. Untuk Juara 1 Rp 7.500.000,-, Juara 2 Rp 5.000.000,- dan Juara 3 Rp 2.500.000,-. Wahh hadiah yang cukup mengiurkan hingga membuat mahasiswa termoivasi untuk berusaha belajar agar pada OSNPTI berikutya memiliki kesempatan untuk berpeluang menang.
kali ini kita sangat beruntung karena ketiga juara tersebut adalah mahasiswa progrm studi Pendidikan matematika FKIP dan buat Rafiq Bajeber sebagai pemenang pertama pada jum'at ini 4 Desember 2009 akan berangkat ke Jakarta tepatnya di Universitas Indonesia kembali akan mengikuti OSNPTI ini di tingkat nasional untuk mewakili nama Universitas Tadulako. semoga kerja kerasnya akan membuahkan hasil dan membawa nama baik kampus kita, dan tentunya dukungan dari teman-teman akan selalu menyertainya.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
Selama ini kita menganggap bahwa pacaran itu adalah metode untuk melakukan pendekatan untuk mengenal lebih dekat. Namun kenyataannya tujuan itu janrang yang tercapai. Karena umumnya alih-alih melakukan pendekatan, yang terjadi justru melakukan sekian banyak bentuk kemaksiatan.
Buktinya, berapa banyak pasangan muda yang sebelum menikah sempat pacaran bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai 5 – 10 tahun, sayangnya begitu mereka menikah langsung cerai dan hancur berantakan rumah tangganya. Belum lagi meningkatnya kasus hamil di luar nikah oleh pasangan sendiri dan juga perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa dan pelajar.
Istilah pacaran itu sendiri sudah merupakan kelaziman di tengah masyarakat dimana pasangan tidak sah melakukan serangkaian aktifitas bersama. Dan realitas di tengah masyarakat sudah mengenal persis aktifitas pacaran itu yang identik dengan apel malam minggu (namanya apel sudah pasti berduaan, karena kalau rame-rame namanya rombongan), juga nonton ke bioskop berdua, berboncengan sepeda motor, jalan-jalan berduaan, makan di restoran berduaan, tukar menukar SMS, saling bertelepon siang dan malam dan semua aktifitas lain yang mengasyikkan. Intinya adalah kebersamaan dan berduaan. Hampir sulit dikatakan pacaran bila semua itu dilakukan bersama-sama dalam kelompok besar.
Bahkan hakikat pacaran adalah pada keberduaannya itu. Inilah pacaran yang dikenal masyarakat dan bukan yang tertulis dalam kamus. Jadi dengan pengertian yang lazim dikenal masyarakat sekarang ini tentang pacaran, maka tidak bisa lain semua itu adalah khalwat yang diharamkan.
Islam sudah memperingatkan laki-laki dan wanita yang bukan mahram untuk tidak menyepi berduaan karena yang ketiganya adalah setan.
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)
"Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya."
Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya: "Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu," mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.
Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.
Istilah pacaran sebenarnya tidak ada batasan bakunya, namun umumnya yang namanya pacaran itu –apalagi di zaman permisif dan hedonis sekarang ini- tidak lain adalah hubungan lain jenis non mahram dengan segala aktifitas maksiatnya dari khalwat, zina mata, zina telinga dan sampai zina kemaluan.
Bahkan beberapa penelitian di berbagai tempat seperti di Yogyakarta beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa sebagian besar pasangan pacaran itu memang telah melakukan hubungan tidak senonoh mulai dari bercumbu, berpelukan, berciuman sampai persetubuhan. Parahnya, semua itu umumnya dilakukan oleh para mahasiswa yang nota bene terpelajar dan calon pemimpin bangsa.
Jadi hampir bisa dikatakan bahwa pacaran itu tidak lain adalah zina atau minimal mendekati wilayah zina yang memang haram dan dilarang oleh semua agama.
Lalu bagaimana seorang laki-laki bisa mengenal calon pasangan hidupnya kalau bukan dengan cara pacaran ?
Islam sesungguhnya sejak awal sudah memperkenalkan istilah ta’aruf sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf adalah sesuatu yang syar`i dan memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.
Tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta’aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.
Ketika melakukan ta’aruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.
Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.
Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma beruda saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.
Disinilah letak perbedaan antara pacaran dengan taaruf. Pacaran adalah jalan-jalan asyik berdua, jajan, nonton, bermesraan dan bercumbu. Sama sekali tidak ada porsi tentang persiapan real untuk hidup. Bahkan pacaran cenderung bohong dan menipu, karena umumnya masing-masing pihak ingin tampil ‘wah’ di depan pasangannya. Bedak, gincu, parfum, pakaian bagus, mobil dan segala asesoris lainnya adalah sesuatu yang harus ditonjolkan. Semua sangat jauh dari kehidupan real nanti dalam keluarga.
Padahal setelah menikah, justru semua itu akan ditinggalkan dan masing-masing baru akan tampil dengan wajah dan kelakuan aslinya. Padahal dahulu hal-hal seperti itu tidak pernah dibahas dalam masa pacaran, karena semua waktunya tersita untuk jatuh cinta.
Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.
Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.
Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Dan khusus dalam kasus ta`aruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh disana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua tapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena tapak tangan wanita pun bukan termasuk aurat.
Lalu bagaimana dengan keharusan ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul bashar tempatnya bukan saat ta`aruf, karena pada saat ta`aruf, secara khusus Rasulullah SAW memang memerintahkan untuk melihat dengan seksama dan teliti. Kalau sekali melihat ternyata belum yakin, boleh melihat lagi dan lagi hingga betul-betul kuat motivasi untuk menikahinya.
Selain urusan melihat pisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran. Sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami istri ini.
Khusus berkaitan dengan foto wjah seseorang, sebenarnya bukan media yang 100 % bisa dipercaya, apalagi bila foto itu cuma ukuran 2x3 hitam putih. Sama sekali tidak memberi gambaran apa-apa. Begitu juga dengan CV yang ditulis di atas kertas selembar yang isinya cuma nama, alamat, hobi dan warna kesukaan. Jelas bukan informasi untuk ta`aruf pada sebuah pernikahan. Kalau cuma pas poto dan selembar kertas bio data, fungsinya buat bikin KTP atau untuk jadi sahabat pena di majalah anak-anak. Dus, itu bukan sarana yang tepat untuk sebuah ta`aruf.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Janji, sumpah, atau komitmen, acap indah diucapkan, mudah ditandatangani, tapi tak jarang gampang pula dicederai. Bagaimana para amirul mukminin menepati janji?
Suatu ketika, dua orang pemuda menghadap Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'anhu (Ra), sambil menggiring seorang pria. Keduanya mengadukan pria tersebut kepada khalifah atas kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap ayah mereka. Mendengar pengaduan itu, serta merta Umar bin Khatthab langsung menginterogasinya.
“Wahai Fulan, apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanya Umar.
“Waktu itu aku memiliki unta. Ketika kami berhenti di kebun milik ayah kedua pemuda, tanpa dapat dicegah untaku menjulurkan lehernya dan memakan kurma yang ada di kebun. Tiba-tiba datang ayah kedua pemuda dan memukulkan batu ke arah untaku. Melihat demikian, aku tak tinggal diam. Aku ambil batu tersebut dan balas memukul kepala ayahnya hingga tewas,” papar pria itu.
Dari pengakuan itu, Umar bin Khatthab memvonisnya dengan hukuman qishash, yaitu menghukum mati pria itu. Tapi sebelum dieksekusi, pria itu minta waktu penundaan tiga hari. Alasannya, ia masih memiliki beberapa saudara yatim, sedang dirinya menyimpan banyak harta di suatu tempat yang tidak diketahui kecuali dirinya sendiri. Rencananya, waktu tiga hari tersebut akan digunakan untuk memberitahukan tempat harta tadi disimpan kepada saudara-saudaranya agar mereka dapat memanfaatkannya.
Umar bin Khatthab berkata, “Bisa saja aku beri tempo tiga hari, asalkan engkau mampu menghadirkan orang yang bisa menjadi jaminanmu.”
Sikap bijaksana Amirul Mukminin itu segera disambut si terpidana dengan menebar pandangannya ke arah orang-orang yang ada di sekeliling pengadilan. Ia berharap mudah-mudahan ada orang yang ia kenal. Sayangnya, tak seorang pun yang ia kenal. Sirnalah harapannya untuk mendapatkan orang yang akan menjadi penjaminnya.
Tapi tiba-tiba dari kerumunan massa, berdiri sosok sederhana yang tak lain adalah Abu Dzar Al-Ghiffari. Ia mengangkat tangan seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, insya Allah saya siap menjadi penjaminnya hingga sebelum terbenamnya matahari di hari ketiga.”
Berkat jaminan Abu Dzar, pria itu bisa pergi untuk menikmati tempo waktu tiga hari yang diberikan Amirul Mukminin sebelum dieksekusi.
Di hari ketiga, waktu tersisa hanya dalam hitungan jam saja, Umar menatap penuh rasa khawatir kepada Abu Dzar. Ia takut kalau pria itu tidak datang. Tapi dalam suasana tegang itu, sebelum matahari terbenam, pria tersebut muncul di tempat yang ia janjikan sesuai waktu yang ia tetapkan. “Wahai Amirul Mukminin, inilah aku telah datang menemuimu,” lapor pria itu kepada Umar.
Dengan setengah kagum Umar bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk datang kemari?”
Pria itu menjawab, “Aku datang agar khalayak luas tidak ada yang berasumsi bahwa pemenuhan janji sudah mati suri.”
Lantas Umar bertanya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, apa yang mendorongmu bersedia menjadi penjaminnya?”
Abu Dzar menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku berani menjaminnya agar tak seorang pun beranggapan bahwa muruah (harga diri) telah hilang.”
Tiba-tiba kedua pemuda yang ayahnya mati terbunuh maju menghadap kepada Amirul Mukminin untuk menarik dakwaan dan memaafkan pria itu. Umar pun bertanya, “Mengapa kalian berdua memaafkannya?”
Kedua pemuda menjawab, “Agar tak seorang pun memiliki persepsi bahwa toleransi telah sirna.”
***
Janji, sumpah, atau komitmen, acap indah diucapkan, mudah ditandatangani, tapi tak jarang gampang pula dicederai. Akhir-akhir ini, kita kerap menyaksikan berbagai janji, nota kesepahaman, atau sumpah setia, begitu mudah dibuat oleh berbagai kalangan, mulai dari orang-orang elite hingga mereka yang dikenal wong cilik. Sayangnya, kesepakatan yang dibuat seringkali semu, tidak mencerminkan nilai-nilai kesepakatan yang sesungguhnya, tapi dilakukan demi mengejar kepentingan sesaat. Dalam bahasa lain dikenal dengan istilah politik dagang sapi.
Di tengah badai krisis multidimensi yang tak kunjung reda ini, kita tentu menyambut baik setiap kesepahaman yang terjadi antara para elite politik negeri ini. Namun seyogyanya, semua dilakukan atas landasan nilai-nilai moral dan kepentingan universal bangsa dan ummat Islam, sebagai pemangku sah negeri ini. Dalam kaitan ini, kisah di atas menggambarkan dalam tiga dimensi moral yang amat bernilai.
Pertama, kesepakatan dibuat harus didasari cita-cita luhur agar rakyat tidak ada yang berasumsi bahwa pemenuhan janji sudah mati suri.
Ini merupakan sebuah ungkapan arif yang mencerminkan keluhuran jiwa. Sebenarnya, tiga hari cukup bagi pria terpidana itu untuk kabur agar terbebas dari jeratan hukum. Toh, kalaupun ia tak datang menepati janji, ada orang yang telah siap menjadi penggantinya untuk menerima hukuman. Tapi tidak demikian. Dengan tegar ia menepati apa yang telah menjadi komitmen dirinya.
Sikap demikian tentu saja tidak akan pernah terjadi di negeri dimana kejujuran, pemenuhan janji, dan komitmen sudah sirna. Jangan harap ada keluhuran sikap seperti itu bila apapun di negeri ini bisa selesai asalkan uang dan kekuasaan yang berbicara. Sudah menjadi rahasia umum, maling-maling kelas kakap negeri ini dapat dengan mudah berkelit dan lari dari tuntutan hukum. Alasannya klasik: sakit, berobat ke luar negeri, atau apapun yang terkesan absah secara hukum.
Contoh lain, ada kecenderungan sejumlah elite politik negeri ini membangun koalisi yang sangat sarat dengan kepentingan-kepentingan individu para ketua partai semata, tanpa mempertimbangkan kepentingan konstituennya. Alih-alih memberi perubahan, kesepakatan yang dibangun dalam koalisi itu justru malah menjadi simbol kebangkitan dari kekuatan amoral status quo. Padahal dari dulu perilaku mereka bak bajing loncat, bunglon, atau lintah darat penghisap darah dan peluh keringat rakyat. Lebih disayangkan lagi, di dalam barisan koalisi itu justru ada yang berasal dari kekuatan politik Islam.
Kedua, agar tak seorang pun beranggapan bahwa muruah (harga diri) telah hilang.
Harga diri bangsa ini sudah diobral habis-habisan. Di dalam negeri, misalnya, bangsa ini telah menjadi kuli di negerinya sendiri. Di luar negeri, mereka diperlakukan laksana budak-budak belian. Jeritan, rintihan, dan tangisan para pahlawan devisa itu seperti tak pernah berakhir. Sementara mental para pejabat kerap menyebalkan, selalu ingin dilayani, berambisi untuk dituankan. Sungguh mentalitas mereka jauh dari muruah yang seharusnya dimiliki para pemimpin.
Berbeda dengan sikap Abu Dzar. Ia bersedia menjadi tameng bagi sosok terpidana qishash yang ingin harga dirinya tidak hilang dengan berusaha menuntaskan amanah yang diembannya (harta anak yatim) kepada sanak famili yang berhak. Andaikan tidak ada jaminan dari sosok Abu Dzar, pria itu tidak akan bisa memenuhi amanah yang dipikulnya. Inilah sosok figur publik yang kita butuhkan saat ini. Sosok yang rela berkorban demi rakyat kecil yang jujur. Sosok yang mendukung upaya menyuburkan keluhuran sikap di masyarakatnya.
Ketiga, agar tak seorang pun memiliki persepsi bahwa jiwa toleransi telah sirna.
Sikap pemaaf seperti yang dilakukan kedua pemuda di atas merupakan barang langka, mengingat keduanya berlapang dada memaafkan ketika mereka sebenarnya dibenarkan secara hukum untuk membalas kematian ayahnya. Peristiwa ini mencerminkan penegakan hukum yang tegas oleh pihak penguasa sekaligus kejujuran rakyat yang rela menunjukkan pengakuan bersalah tanpa adanya tekanan. Kisah itu juga mengajarkan kita untuk memaafkan orang yang mau mengakui kesalahannya dan jujur dengan janjinya, walaupun secara hukum ia telah divonis bersalah.
Tapi, sikap memaafkan di sini harus dibedakan dengan “jiwa pemaaf” bangsa ini yang lebih tepat disebut sebagai “jiwa pelupa”. Bangsa ini telah diperas dan dibuat sengsara oleh pemimpinnya, tapi anehnya masih ada elemen bangsa yang rela berdarah-darah membela dan memilih kembali pemimpin yang selama bertahun-tahun telah membuat mereka menderita. Bangsa ini, harkat dan martabatnya, telah diperkosa oleh para pejabat korup, tapi masih tetap legowo memberikan jalan mulus untuk mereka menuju kursi kekuasaan.* (Nandang Burhanuddin). Disadur dari majalah Hidayatullah
Telah menjadi perkara yang diketahui bahwasanya Indonesia merupakan negeri yang subur hingga ibarat tongkat dan kayu pun bisa menjadi tanaman, nah ini merupakan perkara yang wajib kita syukuri. Namun satu hal yang mengenaskan jika bid’ah pun berkembang dengan subur di negeri ini.
Bertolak dengan keadaan seperti ini, pada kali ini kami akan manjelaskan salah satu bid’ah yang telah berkembang di Indonesia, yakni pelaksanaan qunut shubuh secara terus menerus., bahkan sebagian masyarakat menganggap jika seorang lupa melakukan qunut shubuh maka menggantinya dengan sujud sahwi pada akhir rakaat.
Padahal kebid’ahan mereka bersumber pada hadits yang dhaif, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani dalam Silsilah Hadits Adh Dhaifah Wa Maudhu’ah no. 1238 halaman 384.
Anas bin Malik Radhiyallahuanhu pernah berkata :
“Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam melakukan senantiasa qunut shubuh sampai beliau menuinggal dunia.”
Syaikh Hasan Mashur Salman mengomentari hadits ini bersumber dari Abu Ja’far Ar Razi yang tercampur hafalannya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al Madini begitu pula Abu Jur’ah beliau menyatakan Abu Ja’far Ar Razi adalah seorang yang sering ragu (wahm) dan Ibnu Hibban berujar :”Abu Ja’far Ar Razi bersendirian dalam meriwayatkan hadits-hadits mungkar yang masyhur sehingga derajat hadits ini tidak shahih, dengan demikian hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk beribadah kepada Allah Taala. (Al Qaulul Mubin fi Akhthaul Mushallin:127).
Selain itu para ulama juga menyatakan bid’ahnya qunut shubuh yang dilakukan secara terus-menerus dengan hadits :
Dari Sa’ad bin Abi Thariq Al Asja’i Radhiyallahuanhu, dia berkata, ‘Saya bertanya pada ayahku, “Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, Abu Bakar, Usman, dan Ali, apakah mereka melakukan qunut di shalat shubuh?” Ayahnya berkata, “Wahai anakku, itu perkara yang diada-adakan. (Shahih Sunan Tirmidzi 330).
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam mengomentari bahwa hadits ini hasan dan beliau menjelaskan muhdast adalah perkara yang diada-adakan dalam dien yang tadak diajarkan oleh syariat. (Taudihul Ahkam 2/82).
Syaikh Abdul Qadir Syaibatul Hamdi menjelaskan pula bahwa perkataan shahabat tentang qunut shubuh itu muhdats apabila qunut shubuh itu dilakukan secara terus-menerus adapun jika dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu (QUNUT NAWAZIL) maka tidak apa. (Fiqhul Islam 1/263).
Syaikh Mubarak Fury menjelasakn tentang QUNUT NAWAZIL ini dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu karena Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam hanya melakukan QUNUT NAWAZIL jika mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan mendoakan kejelekan bagi kaum kafirin. Demikian juga qunut ini tidak dikhususkan untuk satu shalat saja, bahkan sebaiknya dilakukan di dalam shalat maktubah (shalat wajib) seluruhnya. (taudihul ahkam 2/83).
Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam: "Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam tidak melakukan qunut kecuali bila mendoakan kebaikan suatu kaum atau mendoakan kejelekan kepada suatu kaum.”
Dan syaikh Al Albani dalam kitab Sifat Shalat Nabi membawakan hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam melakukan qunut pada shalat lima waktu dan beliau membaca qunut di dalam seluruh shalat lima waktu.
“Beliau membaca qunut di dalam seluruh shalat lima waktu.” (HSR Abu Dawud dan Ad Daruquthni).
Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dalam melakukan amalan ibadah dengan menuntut ilmu dalam menggali sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam untuk beritiba’ dengannya.
( Disadur dari Buletin Al-Atsari)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak henti-hentinya memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga kita dapat melewati bulan suci Ramadhan dengan berbagai amal ibadah selain puasa. Semoga amal ibadah kita di bulan ramadhan dapat kita lanjutkan kembali bukan hanya ritual setiap tahun saja, akan tetapi benar-benar membekas dan kita lanjutkan untuk sebelas bulan kedepan.
Setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa di bulan ramadhan, kini di bulan syawal kita diberikan kesempatan lagi untuk menyempurnakan puasa ramadhan kita dengan melaksanakan puasa sunnah syawal selama enam hari. Puasa sunnah syawal adalah puasa enam hari pada bulan syawal, bulan kesepuluh dalam tanggalan islam (hijriah). Puasa syawal ini mempunyai keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadist nabi SAW yang artinya, dari Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)
Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim)
Imam Ahmad dan an-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam "Shahih" mereka)
Dari Abu Hurairah radhallaahu 'anhu, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR. al-Bazzar)
Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa'at, di antaranya:
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, "Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi."(QS. an-Nahl:92)
4. Dan di antara manfa'at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.
Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci. Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, "Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta'ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun." Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.
Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a'a berfirman,
"Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."
(QS. al-Hijr: 99)
Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.
Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu keharibaan Nabi, segenap keluar dan sahabat beliau.
bulan yang penuh berkah, Bulan yang dinantikan kedatangannya dan bulan yang ditangisi kepergiannya oleh kita yang beriman, bersama ikan dilautan dan burung di udara serta seluruh makhluk ciptaannya menangisinya. sudahkah kita mencapai target dalam mengoptimalisasikan ibadah kita di Ramadhan yang akan pergi ini? Insya Allah sudah yah. Karena rugi loh kalau ditawari emas segunung tidaklah kita mengambilnya, padahal itu tidak ada apa-apanya dibanding tawaran yang diberikan Allah di bulan Ramadhan, Maka lebih rugi bila tidak mengoptomalkan ibadah kita.
Rasulullah bersabda
... Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun »
... Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.
(HR Al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib
dan al-Asbahani)
maka apakah yang lebih baik melainkan pembebasan dari api Neraka dan menjadi penghuni Syurga? Pen
Sahabat, semoga Ramadahan ini mentarbiyah kita hingga membawa perubahan pada perilaku kita, tentunya kearah yang lebih baik
sungguh beruntung yah umur kita yang masih sampai di bulan Ramadhan, bagi yang beragama Islam selamat menunaikan ibadah puasa 1430 H semoga amal ibadah yang kita lakukan di bulan puasa ini diterima disisi Allah SWT. dan tentunya untuk mencapai itu harus ada kiat-kiat agar ibadah kita bisa di terima, apa itu? silahkan baca saja DI SINI.
Bagi kalian yang ingin mengetahui JADWAL IMSYAKIYAH, Himaptika juga menyediakannya loh...! silahkan Download aja.
Selain itu juga selama bulan Ramadhan ini sebagaimana rutinitas yang dilaksanakan Himaptika setiap tahunnya dibulan ramadhan yaitu melaksanakan BUKA PUASA bersama dan bakti sosial di Panti Asuhan juga sudah mulai berjalan. supaya kalian ingat waktu pelaksanaannya tolong baca baik-baik jadwalnya iniyah ...
Jadwal Buka Puasa
1. Wahyuni H. Mailili (Angk 06),
Ahad, 9 Ramadhan Jl Lagarutu
2. Nur Halida Sartika ,
Rabu 12 Ramadhan 1430 H, Jl. Samudra III No. 3
3. Ika Rizkiana (Angk 08),
Jum'at, 14 Ramadhan 1430 H, Jl Diponegoro No 18
4. Angkatan 09 , Selasa 18 Ramadhan
5. Himpunan dan semua Angkatan , Jum'at 21 Ramadhan (Bakti Sosial dan Buka Puasa)
Itulah serangkaian acara buka puasa kita di bulan ramadhan, harapan kita agar semua teman-teman mahasiswa P. Matematika bisa berpartisipasi dalam acara tersebut agar hubungan silaturahmi kita bisa kita pererat dalam ikatan keluarga prodi P. Matematika.
selamat menjalankan ibadah puasa dan saran kami sesungguhnya kita tidak mengetahui apakah umur ini masih sampai pada Ramadhan berikutnya, untuk itu perbanyak ibadah terutama shalat dan tadarus serta kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan sehari-sehari. Serta bersungguh-sungguhlah dalam menjalankannya.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Awal kata kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan yang diberikan kepada kami (Kamaruddin "ketua" dan Ihsan "wakil ketua") sebagai pemegang tongkat estafet dalam melanjutkan pergerakan himaptika kedepan. semoga kami menjadi pemimpn yang amanah dan bertanggung jawab terhadap apa yang kami pegang.
terobasan yang baru dari kami untuk membuatkan situs Himaptika agar seluruh rangkaian kegiatan dapat tersosialisasi dan diketahui teman-teman di Matematika. dalam situs ini terdapat beberapa artikel dan program kerja agar memudahkan kalian untuk melihat serangkaian kegiatan penting di Himaptika. semoga bisa bermanfaat buat kita semua.
Terakhir kami mengharapkan saran dan kritikannya untuk membangun himamptika menjadi lebh baik atau tambahan dalam melengkapi fitur-fitur yang ada dalam situs ini.
email : himaptika@yahoo.co.id
Terimakasih
Pendidikan Matematika (HIMAPTIKA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako Palu, sukses menggelar Lomba Cepat Tepat Matematika (LCTM) tingkat SMA/MA se-Kota Palu dan sekitarnya hingga ke babak Grand-Final. Kegiataan ini mulai berlangsung pada tanggal 2 Mei dan berakhir pada tanggal 11 Mei, yang dilaksanakan di Gedung Kesatuan Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Palu. Kegiatan LCTM ini merupakan salah satu program kerja terbesar yang dilakukan setiap tahunnya oleh HIMAPTIKA.
Hampir seluruh sekolah di Kota Palu ikut berpartisipasi dalam ajang bergengsi LCTM ini. Berdasarkan arsip panitia pelaksana kegiatan, telah terdaftar 15 sekolah, baik SMA/Madrasah Aliyah se-Kota Palu dan sekitarnya. Ada beberapa sekolah yang mengutus 2 team untuk perwakilan dari sekolahnya, sehingga total team secara keseluruhannya yaitu berjumlah 22 team. Ini sudah membuktikan bahwa, begitu antusiasnya pihak sekolah dan para siswa di Kota Palu ini, untuk mengasah kemampuannya dalam ajang LCTM di tahun ini seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Proses lomba terasa begitu menegangkan bagi para peserta lomba. Persaingan semakin terasa ketat dengan sikap heboh yang dilakukan para supporter di setiap tahapnya. Semuanya heboh, apalagi di babak Grand-Final, peserta lomba seolah-olah tidak ada yang mau kalah, selalu mencoba unjuk kebolehannya di dalam ilmu pasti ini.
Setelah melewati tahap kualifikasi serta tahap semi-Final, akhirnya empat team terbaik yang akan menuju ke tahap Grand-Final yaitu perwakilan dari SMAN 2 Palu, SMAN 4 Palu, serta SMAN Model Terpadu Palu team A dan team B.
Detik demi detik pun berlalu, baik peserta, dewan juri, para pengamat dari masing-masing sekolah maupun para supporter pun semakin tambah heboh dan menegangkan, apalagi di babak rebutan pada tahap Grand-Final dilaksanakan di Lantai II Gedung KNPI itu. Pada hari itu juga sekaligus akan ditutupnya kegiatan LCTM tersebut yang dirangkaikan dengan pemberian hadiah untuk masing-masing pemenang.
Pelaksanaan lomba pun akhirnya tiba pada puncaknya yaitu di Grand-Final. Akhirnya, empat sekolah yang menjadi pemenang pada lomba ini yaitu SMAN Model Terpadu Madani Palu team B sebagai jawara, lalu SMAN 2 Palu di posisi runner up, dan SMAN 4 Palu sebagai juara tiga, serta SMAN Model Terpadu Madani Palu team A sebagai juara keempat.
“Tentu saja saya sangat senang sekali. Kemenangan ini tentunya juga tidak lepas dari bimbingan guru kami dan dukungan dari semua pihak,” Ungkap Uswatun Hasanah, juru bicara dari SMAN Model Terpadu Madani team B, yang berhasil mengantongi poin tertinggi di Tahap Grand-Final. ”Harapan saya, semoga kegiatan seperti ini akan rutin diadakan setiap tahunnya,” Tambahnya lagi.
Rio F. Pasandaran selaku ketua panitia LCTM 2009, mengaku bahwa kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar berkat dukungan dari semua pihak. “Salut dan bangga buat para panitia atas kerja kerasnya selama kegiatan, dan terima kasih yang mendalam juga dihaturkan kepada Bapak Drs.Baharuddin, M.Si selaku ketua prodi Matematika, serta segenap dosen yang telah memberikan arahan dan bimbingannya,” Ungkap Mahasiswa yang tengah kuliah di semester 4 itu.
Harapan terbesar Rio melalui kegiatan LCTM ini, agar mahasiswa matematika dapat menumbuhkan kembali nilai-nilai moral pendidikan yang pernah dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Terdapat teori Trikon yang meliputi, kolaborasi, berkepribadian, dan mandiri yang sudah seharusnya ditanamkan dalam benak siswa pada khususnya dan kita sebagai insan pendidikan harus memberi perhatian yang lebih pada dunia pendidikan saat ini. Harapannya lagi semoga LCTM tahun ini, mampu melahirkan matematikawan-matematikawan muda. Generasi saintis yang berakhlak dan berbudaya. Dengan Matematika, ayo kita ukir prestasi guna merumuskan masa depan bangsa!
berakhirnya Ujan Nasional memberikan pertanyaan seputar keberadaan setiap siswa tentang masa depan mereka setelah lulus dari SMA. Memang pengumuman belum dikeluarkan tetapi pastinya sebagian mereka telah memiliki perencanaan untuk melanjutkan study mereka di tingkat perguruan tinggi. olehnya itu kami menyediakan informasi umum seputar seleknas masuk perguruan tinggi walaupun memang beberapa situs telah menyediakan hal ini namun untuk teman-teman sekalian bisa di download aja.
Himaptika, selamat atas keberhasilan Anwar, Ansar, dan Samsudin perwakilan 2006 yang berhasil menjuarai turnamen takraw yang berlangsung sejak tanggal 25 April 2009 setelah menumbangkan rekan seangkatannya dalam final pada hari sabtu 16 Mei 2009. turnamen tersebut diikuti oleh 9 team diantaranya 2 team perwakilan angkatan 2008, 3 team 2007 dan 4 team dari 2006. dari hasil penyisihan grub berhasil meloloskan 3 team perwakilan 2006 dan 1 perwakilan 2007 untuk masuk ke babak semifinal yang dilaksanakan sabtu kemarin tanggal 16 Mei 2009.
Namun sayang pada pertandingan final tersebut tidak berlangsung meriah diakibatkan cuaca panas dan stamina pemain yang tidak lagi fit terutama team yang dimotori oleh Nurdin mengeluhkan pelaksanaan final tersebut. dalam wawancara kami beliau mengatakan ini sungguh tidak adil, kami baru saja selesai bertanding dalam semifinal seharusnya ada istirahat bagi kami untuk mengembalikan kekuatan kami yang sesungguhnya sebelum bertanding difinal, andaisaja kami fit dalam bertanding pasti kami dapat mengalahkan mereka dalam 2 set langsung dan merebut juara pertama. kalau g' saetuju suka-suka gue dong.
Namun sayang dalam keberhasilan yang dicapai Ansar dkk, tidak dapat di ikuti oleh team kebanggaan indonesia dalam pertandingan Bulu Tangkis untuk memperebutkan piala sudirman di Guanzhao China setelah dalam semi final ditumbngkan korea selatan dengan skor 3-1. Sungguh luka ini berlanjut bagi Nurdin dkk.
Pembagian Gerobak Mie
Seorang ayah mempunyai tiga orang anak perempuan. Pekerjaan ayah itu adalah menyewakan gerobak mie (ayam). Setiap pagi ketiga anaknya membantu membuat mie dan menyiapkan gerobak untuk diambil para penyewa di pagi hari. Ada 17 gerobak yang disewakan. Mereka mempunyai tetangga yang mempunyai usaha mie dari mereka. Sang ayah, karena sudah tua, membagi 17 gerobak agar dikoelola oleh masing-masing anak.
Tidak ingin dengan mudah memberi gerobak, ayah memberi teka-teki :
“setengah dari jumlah gerobak menjadi milik anak bungsu yang paling rajin, sepertiganya untuk anak kedua, dan sepertiganya untuk si sulung yang pemalas.”
FootNote: teka-teki ini untuk umum, terutam bagi yang merasa warga Matematika. Kalo udah tau jawabannya, silahkan menghubungi pengurus mading, ada hadiah menarik lho !. atau kalo gak taruh di kotak saran aja, jangan lupa nama dan stambuk + cara kerjanya.
Kotak ajaib
1 2 3 4
5 6 7 8
9 10 11 12
13 14 15 16
Pindahkan dan otak atiklah angka-angka di atas sampai merasa bosan, dengan jumlah semua angka yang mendatar dan menurun sama (namun bukan teka-teki silang) serta diagonalnya mempunyai jumlah yang sama.
Kirim jawaban anda kepada pengurus himaptika bidang Pemikat atau dapat dimasukkan kekotak saran saja. Ada hadiahnya loh
LCTM. Sabtu 2 Mei 2009, Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, Himpunan mahasiswa pendidikan Matematika (Himaptika) FKIP UNTAD mengawali pembukaan Lomba cepat-tepat Matematika (LCTM) tingkat SMA/MA sekota Palu dan sekitarnya di Graha Pemuda KNPI Sulteng jalan Trans Sulawaesi Palu. Dalam lomba tersebut diikuti oleh 22 regu dari 16 sekolah yang siap berkompetisi untuk menunjukan kemampuan peserta didiknya dalam bidang Matematika. Ketua Himaptika dalam sambutannya menyampaikan optimisme bahwa kepengurusan kedepan dapat mengadakan kegiatan ini dalam dua tingkatan yaitu SMP/MTS dan SMA/MA.
Karena pada tahun ini himaptika hanya dapat melaksanakan kegiatan ini dalam satu tingkatan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Begitu pula sambutan yang disampaikan oleh Bapak Lukman Najamuddin sebagai Pembantu Dekan Tiga FKIP UNTAD yang membuka acara tersebut menyampaikan bahwa acara semeriah ini harus betul-betul tersosialisasi kemasyarakat agar doktrin yang melekat pada masyarakat bahwa matematika itu sulit bisa hilang dengan melihat menariknya kompetisi ini. Olehnya itu beliau menyatakan dukungan agar LCTM kedepan dapat disiarkan secara langsung oleh TVRI Sulteng. Dan tentunya ini merupakan sesuatu yang istimewa bagi HIMAPTIKA dan berharap dukungan ini dapat dibuktikan.
mengawali pembukaan tersebut berlangsung pada partai pertama diikuti oleh 3 regu yaitu MAN 2 Palu, SMA 2 Palu, dan SMA Katolik Palu. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh SMA 2 Palu (1) dan MAN 2 Palu(2) dan berhak lolos pada putaran berikutnya.
Partai kedua berlangsung oleh 4 regu yaitu MAN 1 Palu, SMA Madani Palu A, MAN 2 Palu, dan SMA 7 Palu. Dan berhasil meloloskan SMA Madani Palu (1) yang merupakan salah satu kandidat juara pada LCTM kali ini, disusul SMA 7 Palu di tempat ke dua.
Untuk mengetahui perjalanan kompetisi ini dapat menghadiri perlombaan tersebut secara langsung yang dilaksanakan setiap hari mulai pukul 13.00 sampai pukul 18.00 WITA di Gedung KNPI Sulteng.
Matematika selalu memberikan kesan ‘angker‘ saat kita mendengarnya apalagi mempelajarinya. Tapi dibalik ke’angker’annya ternyata Matematika menyimpan sebuah keindahan. Perhatikan pola-pola perhitungan matematika berikut ini :
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
(0 x 9) + 8 = 8
(9 x 9) + 7 = 88
(98 x 9) + 6 = 888
(987 x 9) + 5 = 8888
(9876 x 9) + 4 = 88888
(98765 x 9) + 3 = 888888
(987654 x 9) + 2 = 8888888
(9876543 x 9) + 1 = 88888888
(98765432 x 9) + 0 = 888888888
(987654321 x 9) - 1 = 8888888888
3 x 37 = 111
6 x 37 = 222
9 x 37 = 333
12 x 37= 444
15 x 37 = 555
18 x 37 = 666
21 x 37 = 777
24 x 37 = 888
27 x 37 = 999
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
32 + 42 = 52
102 + 112 + 122 = 132 + 142
212 + 222 + 232 + 242 = 252 + 262 + 272
362 + 372 + 382 + 392 + 402 = 412 + 422 + 432 + 442
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321
Matematika adalah sebuah Kebenaran. Tidak akan ada yang bisa menyangkal hasilnya. Juga salah satu keindahan yang datang dari Tuhan
dennycharter










